Jumat, 02 Desember 2011

IMPLIKASI PERTUMBUHAN/PERKEMBANGAN/KEMATANGAN PESERTA DIDIK TERHADAP PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN



Sebagai individu yang sedang tumbuh dan berkembang, maka proses pertumbuhan dan perkembangan peserta didik tersebut sangat dipengaruhi oleh adanya interaksi antara dua faktor yang sama-sama penting kedudukannya yaitu faktor hereditas (pembawaan) dan faktor lingkungan. Keberadaan dua faktor tersebut tidak bisa dipisakan satu sama lainnya karena kenyataannya kedua faktor tersebut tidak bekerja sendiri-sendiri dalam operasionalnya. Meskipun demikian proses pertumbuhan dan perkembangan tersebut bukan berarti tanpa mengikuti pola atau prinsip. Proses pertumbuhan/perkembangan secara umum tetap mengikuti prinsip-prinsip yang berlaku secara alami untuk setiap individu.
Dari pernyataan di atas, maka dapatlah ditarik beberapa butir implikasi pertumbuhan/perkembangan/kematangan peserta didik terhadap penyelenggaraan pendidikan sebagai berikut:
  1. Pertumbuhan dan perkembangan manusia sejak lahir berlangsung dalam lingkungan sosial yang meliputi semua manusia yang berada dalam lingkungan hidup itu. Interaksi antara individu dengan lingkungan social itulah yang memungkinkannya untuk melaksanakan tugas-tugas perkembangan, sehingga akan dapat mencapai keterampilan-keterampilan tertentu yang dituntut sesuai dengan tingkat perkembangannya. Disinilah peran lingkungan nampak, sehingga diharapkan lingkungan dapat memberikan atau menyediakan stimulasi-stimulasi bagi berlangsungnya pertumbuhan atau perkembangan secara wajar dan lancar.
  2. Interaksi manusia dengan lingkungannya sejak lahir menghendaki penguasaan lingkungan maupun penyesuaian diri pada lingkungan. Disinilah peran faktor intra individual yang berupa potensi-potensi psikis seperti minat, motivasi, dan sebagaimana untuk diaktualisasikan oleh individu dengan bantuan dari pendidik. Pendidik tidak hanya menanti kapan individu itu bangkit, melainkan harus berupaya agar potensi-potensi yang ada pada peserta didik dapat teraktualisasikan secara baik.
  3. Dalam interaksi sosial, manusia sejak lahir telah menjadi anggota kelompok sosial yang dalam hal ini ialah keluarga. Disini pun manusia belajar menyesuaikan diri pada nilai-nilai dan norma-norma yang dianut dan diikuti oleh anggota-anggota kelompok dalam lingkungan keluarga itu. Oleh karenannya keluarga adalah lembaga social pertama yang dikenal oleh anak dalam rangka proses pertumbuhan dan perkembangan anak.
  4. Atas dasar keterikatan dan kewajiban sosial para pendidik terutama orang tua, maka anak senantiasa berusaha menciptakan lingkungan fisik, lingkungan sosial, serta lingkungan psikis yang sebaik-baiknya bagi proses pertumbuhan dan perkembangannya.
  5. Setelah umur kronologis mencapai lingkungan tertentu, anak telah mencapai berbagai tingkat kematangan intelektual, sosial, emosional, serta kemampuan jasmani yang lain. Untuk menunjang perkembangan anak sesuai dengan berbagai jenis kematangan dan tingkat kematangan tersebut, maka para pendidik/pengajar/pengasuh anak hendaknya berusaha menciptakan atau mengembangkan lingkungan belajar secara efektif. Jadi segala sesuatunya disesuaikan dengan tingkat kemampuan atau tingkat pertumbuhan atau perkembangan peserta didik.
  6. Kematangan sosial merupakan lkitasan bagi kematangan intelektual, karena perkembangan kecerdasan berlangsung dalam lingkungan sosial tersebut.Oleh karena itu, lingkungan social yang menguntungkan akan sangat menunjang perkembangan kecerdasan peserta didik.
  7. Kematangan emosional meliputi kematangan sosial dan kematangan intelektual, karena sebagian besar tingkah laku manusia dikuasai atau ditentukan oleh kondisi perasaannya. Maka dapat dipahami bahwa seorang peserta didik hanya akan dapat belajar apabila ia didorong, dimotivasi sehingga menjadi tergerak, terdorong untuk mempelajari sesuatu.
  8. Kematangan jasmani merupakan dasar yang meliputi semua kematangan. Oleh karena itu wajarlah kiranya apabila para pendidik mengutamakan kesehatan jasmani anak sebagai pangkal tolak untuk perkembangan manusia seutuhnya. Usaha-usaha kearah ini dilakukan di sekolah-sekolah melalui kegiatan ekstra misalnya : perkumpulan olahraga bela diri, pencak silat, bola volley, dan sebagainya.
  9. Pendidik yang berkecimpung dalam pengasuhan anak dalam perkembangan di masa kanak-kanak hendaklah memperhatikan keterkaitan antara berbagai segi kematangan jasmani dan rohani anak dalam menciptakan lingkungan belajar yang efektif.
  10. Hasil-hasil belajar yang mendasari hidup bermasyarakat banyak dicapai oleh anak dalam keluarga terutama semasa masih kanak-kanak, yaitu sikap dan pola tingkah laku terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain. Oleh karena itu untuk memahami tingkah laku peserta didik perlu dilakukan peninjauan latar belakang kehidupan keluarga.
  11. Iklim emosional yang menjiwai keluarga itu meliputi: hubungan emosional antara keluarga, kadar kebebasan menyatakan diri dan tanggung jawab dalam pengambilan keputusan. Iklim emosional yang positif atau negative dalam keluarga akan mewarnai sikap dan tingkah laku anak pada masa-masa perkembangan berikutnya.
  12. Seorang anak dimana anak sekolah adalah seorang realis yang hendak mengenal kenyataan di sekitarnya menurut keadaan senyatanya atau objektif apa adanya. Dengan sikap yang demikian ia mengadakan pendekatan terhadap dunia orang dewasa. Kecenderungan untuk mendapatkan informasi yang benar atau memperoleh penerangan dalam interaksi dengan lingkungan fisik maupun lingkungan social merupakan kehausan fakta dan data yang tak terpuaskan.
  13. Pada umumnya anak masa sekolah dan masa remaja mengalami pertumbuhan jasmani yang semakin kuat dan sehat. Sedangkan dalam segi rohani ia mengalami perkembangan pengetahuan dan kemampuan berpikir yang pesat pula karena ditunjang oleh hasrat belajar yang sehat serta ingatan yang kuat. Pada akhir masa ini anak mengalami suatu masa tenang, sadar akan diri sendiri dan menaruh perhatian yang menyegarkan terhadap lingkungan fisik maupun sosialnya.
  14. Pemahaman guru terhadap minat dan perhatian peserta didik akan sangat bermanfaat dalam perencanaan program-program pendidikan maupun pengajaran.
  15. Karakteristik umum pertumbuhan/perkembangan peserta didik ialah diikuti dengan kegelisahan, pertentangan, keinginan mencoba segala sesuatu, menghayal dan aktivitas berkelompok. Agar supaya pendidik dapat mendirikan perlakuan secara tepat dan terarah maka pendidik hendaknya memahami secara benar siapa sebenarnya peserta didik itu, bagaimana latar belakangnya (lingkungannya) dan bagaimana kecenderungan-kecenderungannya dalam bertingkah laku (mengetahui apa yang menjadi tujuan-tujuannya). Dengan demikian pendidikan harus berusaha membantu perkembangan peserta didik secara optimal dengan tetap memperhatikan segi-segi pembawaan, lingkungan, kematangan, dan usaha-usaha belajar yang berkaitan dengan motivasi dan kebutuhan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar