Selasa, 03 April 2012

“Penerapan Pola Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan (PBMP) pada Mata Pelajaran Biologi Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas XI IPA di SMA Kristen 1 Tomohon ”


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
                Berkembangnya suatu negara sangatlah ditentukan oleh kualitas dan kuantitas dari komponen yang ada didalamnya yaitu masyarakat, sebagai penentu masa depan dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehingga sebagai salah satu sarana dalam memanjukan dan mencerdaskan bangsa adalah diwujudkan dengan adanya pendidikan (Purwaningsih, 2005). Menurut Suyanik (2005), Peningkatan kualitas pendidikan melalui pembelajaran tidak terlepas dari upaya memberdayakan potensi siswa sebagai peserta didik dan sebagai bagian dari masyarakat belajar. Proses pembelajaran di sekolah saat ini sedapat mungkin dilaksanakan dan dikembangkan berdasarkan strategi pembelajaran yang meng-aktifkan siswa. Sejalan dengan upaya tersebut perlu penerapan strategi yang efektif dan mengaktifkan siswa, sehingga siswa dapat menemukan hubungan antara informasi-informasi yang mereka pelajari.
            Menurut Trianto (2007), Merosotnya kualitas pendidikan banyak mendapatkan sorotan dari masyarakat, para pendidik serta pemerintah, sehingga pendidikan hendaknya melihat jauh kedepan dan memikirkan apa yang akan dihadapi peserta didik. Salah satu masalah pokok dalam pembelajaran pada pendidikan formal (sekolah) dewasa ini adalah masih rendahnya daya serap peserta didik dalam menerima materi pelajaran yang berpengaruh pada prestasi siswa. Prestasi ini tentunya merupakan hasil kondisi pembelajaran yang masih bersifat konvensional dan tidak menyentuh ranah dimensi peserta didik itu sendiri, yaitu bagaimana sebenarnya belajar itu (study for study). Dalam arti yang substansial, bahwa proses pembelajaran hingga dewasa ini masih memberikan dominasi guru dan kurang memberikan akses bagi anak didik untuk berkembang secara mandiri melalui penemuan dan proses berpikirnya.
Dalam pembelajaran IPA, khususnya Biologi, sangatlah di perlukan banyak strategi pembelajaran yang tepat dan dapat melibatkan siswa seoptimal mungkin, baik secara intelektual maupun emosional. Sehingga siswa atau peserta didik lebih memahami lebih jelas dan tidak terkesan abstrak dengan apa yang dipelajari didalam kelas, karena pengajaran biologi menekankan pada keterampilan proses juga bahwa ”Biologi merupakan ilmu yang moderat dan strategis yang terletak diantara ilmu-ilmu sosial, psikologi, dan ilmu-ilmu alam. Melalui mata pelajaran Biologi siswa diharapkan dapat mengembangkan sikap ilmiahnya yang mencakup: sikap jujur dan objektif terhadap fakta serta sikap ingin tahu yang selalu berkembang, yang kemudian dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat” (Ngangi,2004).
Jika melihat pada pelaksanaan pembelajaran di kelas, penggunaan pembelajaran yang bervariasi masih sangat rendah dan guru cenderung menggunakan metode ceramah dan mengurangi ketertarikan siswa pada setiap kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan. Hal ini mungkin disebabkan kurangnya penguasaan guru terhadap model-model pembelajaran yang ada, padahal penguasaan terhadap model-model pembelajaran sangatlah  di perlukan untuk meningkatkan kemampuan profesional guru serta penyerapan materi pembelajaran oleh siswa. (Zahrah; 2009). Sedangkan menurut Muhfahroyin (2008) pembelajaran student centered membutuhkan proses belajar dan pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan kurikulum yang mendukung pembelajaran, untuk mengembangkan pembelajar yang mandiri (self-regulated learner) yang mampu memberdayakan kemampuan berpikir kritis peserta didik.
                        SMA Kristen 1 Tomohon adalah salah satu sekolah di Kota Tomohon yang terletak di Kecamatan Tomohon Tengah. Dari hasil observasi kepada guru mata pelajaran biologi, khususnya untuk kelas XI IPA dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) sering mendapatkan kendala dalam aktivitas pembelajaran, dimana rata-rata hasil belajar siswa semester ganjil pada tahun pelajaran 2010/2011 mata pelajaran Biologi pokok bahasan terakhir, nilai rata-rata adalah 63 dari KKM 65. Hal ini dikarenakan kurangnya perhatian siswa dalam proses belajar didalam kelas, kemudian pada saat memilih jurusan masuk kelas XI ada yang hanya ikut-ikutan, dan ada faktor lain yang berpengaruh yaitu gengsi. Kemudian masih kurangnya daya analisa tentang materi pelajaran sehingga materi tidak terserap dengan baik.
                        Oleh karenanya peneliti ingin menerapkan suatu pembelajaran yang mampu mengasah peserta didik dalam berpikir dan menganalisa dengan jalinan pertanyaan dalam lembar Pola Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan (PBMP) yang dapat membantu siswa untuk mendapatkan hasil belajar seperti yang diharapkan.
            Dari permasalahan diatas maka penulis mengadakan penelitian dengan judul: “ Penerapan Pola Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan (PBMP) pada Mata Pelajaran Biologi Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas XI IPA di SMA Kristen 1 Tomohon ”.

B.     Identifikasi Masalah
            Berdasarkan uraian dari latar belakang masalah diatas maka penulis dapat mengidentifikasikan masalah yang ditemukan yaitu :
1.      Kurangnya perhatian siswa di dalam kelas yang menyebabkan hasil tidak maksimal.
2.      Pemilihan jurusan saat masuk kelas XI menyebabkan tingkat kemampuan dan cara berpikir siswa yang bervariasi.
3.      Daya analisis siswa yang kurang dalam menerima materi yang diajarkan.

C.    Pembatasan Masalah
  Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini hanya dibatasi pada Penerapan Pola Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan (PBMP) pada Mata Pelajaran Biologi Siswa Kelas XI IPA di SMA Kristen 1 Tomohon tahun ajaran 2010/2011 Pokok Bahasan Sistem Ekskresi pada Manusia.

D.    Perumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam dalam penelitian ini adalah Apakah penerapan Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan (PBMP) pada mata pelajaran Biologi dapat meningkatkan hasil belajar siswa di SMA Kristen 1 Tomohon?

E.     Tujuan Penelitian
            Sejalan dengan permasalahan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah  Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dengan penerapan Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan (PBMP) pada mata pelajaran Biologi.

F.     Manfaat Penelitian
            Manfaat dari penelitian ini diharapkan tepat kepada semua pihak, diantaranya :
1.      Bagi Siswa, yaitu :
a.       Menarik minat dalam mengikuti pelajaran karena penyajian materinya dilaksanakan sendiri menggunakan lembar PBMP, sehingga dapat diselesaikan secara mandiri.
b.      Melatih siswa untuk dapat menyelesaikan dan memecahkan masalah secara mandiri, sehingga materi pelajaran mudah diingat.
2.      Bagi Guru, yaitu :
a.       Sebagai masukan bagi guru untuk dapat menggunakan PBMP dalam kegiatan belajar mengajar dalam kelas.
b.      Meningkatkan kemampuan profesionalisme guru dalam aktifitas pembelajaran didalam kelas.
3.      Bagi sekolah, yaitu :
Sebagai sumbangan pemikiran dan bisa dijadikan bahan pertimbangan dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) di dalam kelas.








BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    KAJIAN TEORI
1.      Pemberdayaan Berpikir Pada Pembelajaran
            Secara umum menurut Corebima (2005), pada pembelajaran MIPA di Indonesia, penalaran tidak pernah dikelola secara langsung, terencana atau secara sengaja, padahal semua guru mungkin dapat diyakini sudah mengetahui pentingnya penalaran terhadap proses pembelajaran dan terutama terhadap pembentukan sumber daya manusia.  Kesan yang terungkap adalah bahwa perkembangan penalaran akan terjadi dengan sendirinya, lancar sebagaimana yang antara lain dikemukakan oleh Piaget, seolah pada usia 7-11 tahun setiap anak otomatis memiliki tingkat penalaran kongkrit dan sejak usia 11 tahun tiap anak pasti akan memasuki penalaran formal.
            Menurutnya yang terkait dengan pelaksanaan pembelajaran maupun evaluasinya selama ini memang membuktikan bahwa penalaran tidak pernah dikelola secara langsung, terencana atau secara sengaja. Berdasarkan penelitian dari angket survey mengenai perkembangan penalaran membuktikan bahwa tersirat dari jawaban angket maupun survey masing-masing bahwa tidak ada satupun yang menyinggung penalaran siswa secara langsung; hanya sebagian kecil yang secara tidak langsung menyinggung kemampuan berpikir siswa. Dan dari evaluasi belajar yang terekam menunjukkan bahwa hampir semuanya hanya melaksanakan tes kognitif. Serta parameter yang digunakan tampaknya begitu kuat mengacu kepada jawaban benar dan salah kurang ataupun bahkan tidak memperhatikan kemampuan berbahasa, kemampuan mengungkapkan pikiran atau kemampuan penalaran, dan keadaan ini diperparah jika tes kognitif yang dijalani siswa sebagian besar atau hanya berupa tes obyektif.

2.      Bertanya dan Perpikir pada Pembelajaran
            Corebima (2004) mengungkapan bahwa berbagai teori atau saran-saran berdasarkan hasil suatu penelitian telah banyak dilontarkan untuk meningkatkan kemampuan berpikir siswa. Ada beberapa pendapat ahli-ahli berikut mengenai pemahaman dari bertanya dan berpikir pada pembelajaran yaitu :
1.      Piaget (dalam Corebima, 2004) mengatakan bahwa pertanyaan-pertanyaan dapat melatih siswa untuk berpikir kreatif.
2.      Martin (dalam Corebima, 2004) mengatakan bahwa pertanyaan mempunyai banyak kegunaan diantaranya dapat memotivasi siswa, membantu siswa berpikir runtut, menemukan minat, melatih mengekspresiskan sesuatu, mengembangkan kemampuan berpikir, dan sebagainya.
3.      Pasch (dalam Corebima, 2004) mengemukakan bahwa pertanyaan dapat dipakai untuk memfasilitasi pengelolaan kelas atau memfokuskan perhatian siswa, mengemukakan arah mencek pemahaman dan untuk meningkatkan proses berpikir siswa.
4.      Wassermann (dalam Corebima, 2004) mengatakan bahwa pertanyaan dapat dimanfaatkan untuk merangsang kemampuan siswa dalam mengemukakan opini atau memberikan penilaian tentang nilai-nilai dalam masyarakat.
5.      Alindada (dalam Corebima, 2004) mengemukakan bahwa cara yang paling mudah untuk menantang pola berpikir adalah dengan pertanyaan-pertanyaan. Guru tidak dapat mengajarkan kreatifitas tetapi dapat memacu dan memfasilitasinya dengan meningkatkan dan mengembangkan pertanyaan-pertanyaan.
6.      Theo (dalam Corebima, 2004) menjelaskan bahwa pertanyaan merupakan alat yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan kemampuan kognitif siswa dan dapat dicapai melalui rangsangan berbagai pertanyaan.




Berikut ini diperlihatkan juga gungsi pertanyaan dan tingkat kognitif Bloom yang dapat dicapai.
Tabel 1. Fungsi pertanyaan dan tingkat Kognitif Bloom yang dapat Dicapai (Theo dalam Corebima, 2004)


Fungsi Pertanyaan
Tingkat Kognitif Bloom
1.
Memfokuskan perhatian
Pengetahuan, pemahaman
2.
Mencari kejelasan suatu arti
Pengetahuan, pemahaman, analisis
3.
Meminta opini
Pengetahuan, pemahaman, analisis
4.
Membuat perbandingan atau pertentangan
Penerapan, analisis, sintesis
5.
Meminta alasan dan mengemukakan ide
Pengetahuan, pemahaman, analisis
6.
Mengemukakan ide ke contoh
Analisis
7.
Mengemukakan contoh ke ide
Sintesis
8.
Menjelaskan sebab akibat
Analisis, sintesis
9.
Menelaah kebijakan
Evaluasi
10.
Menimbulkan rasa ingin menemukan sesuatu
Penerapan, analisis, sintesis
11.
Membentuk hipotesis eksperimen
Pemahaman, penerapan, analisis, sintesis
12.
Mendapat data dan membuktikan informasi
Pemahaman, penerapan, analisis, sintesis
13.
Memacu investigasi atau penyelitikan
Pemahaman, penerapan, analisis, sintesis
14
Mendukung suatu teori
Pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis
            
Oleh karena itu dalam upaya memperbaiki kemampuan berpikir siswa, para guru harus belajar menjadi penanya yang cakap dan terampil. Dinyatakan pula bahwa mengetahui bagaimana dan kapan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai adalah suatu unsur penting bagi seluruh strategi instruksional.
3.      Pentingnya Pola Berpikir dalam Pembelajaran
            Muhfaroyin (2008) mengungkapkan bahwa keterkaitan berpikir dalam pembelajaran adalah perlunya mempersiapkan siswa agar menjadi pemecah masalah yang tangguh, pembuat keputusan yang matang, dan orang yang tak pernah berhenti belajar. Penting bagi siswa untuk menjadi seorang pemikir mandiri sejalan dengan meningkatnya jenis pekerjaan di masa yang akan datang yang membutuhkan para pekerja handal yang memiliki kemampuan berpikir kritis. Selama ini, kemampuan berpikir masih belum merasuk ke jiwa siswa sehingga belum dapat berfungsi maksimal di masyarakat yang serba praktis saat ini. Kurangnya kemampuan siswa dalam menerapkan ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan di sekolah dan kelas ke permasalahan yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. Menyebabkan banyak siswa tidak mampu memberikan bukti tak lebih dari pemahaman yang dangkal tentang konsep dan hubungan yang mendasar bagi mata pelajaran yang telah mereka pelajari atau ketidakmampuan untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang telah mereka peroleh ke dalam permasalahan dunia nyata.

4.      Kualitas Pertanyaan dan Tingkatan Berpikir Siswa
            Tingkat atau kualitas pertanyaan yang sering atau selalu digunakan akan membentuk kebiasaan atau pola pikir siswa, rendah atau tinggi, dsb. Oleh karena itu seharusnya guru secara sadar membiasakan diri menggunakan pertanyaan-pertanyaan berkualitas tinggi selama pembelajaran. Agar lebih mudah bagi kita mengenal kualitas pertanyaan, dibawah ini adalah tingkat berpikir kognitif  dan keterampilan yang terkait.
Tabel 2. Tingkat-tingkat berpikir Kognitif Bloom dan Keterampilan
(Munandar dalam Corebima, 2004)

Tingkat
Keterampilan
Pengetahuan
·         Menghafal
·         Mengingat
Pemahaman
·         Menerjemahkan
·         Menghubungkan
·         Menafsirkan
Penerapan
·         Menerapkan
·         Mempertunjukkan
·         Menggunakan Informasi dalam simulasi baru
Analisis
·         Mengkategorikan
·         Mengklasifikasikan
·         Memotong
·         Membedah
Sintesis
·         Mengembangkan
·         Merancang
·         Mencipta
Evaluasi
·         Mempertimbangkan
·         Memutuskan
·         Menyarankan


5.      Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaaan (PBMP)
            Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan (PBMP) atau TEQ (Thinking Empowerment by Questioning) merupakan pola pembelajaran yang dilaksanakan dengan tidak ada proses pembelajaran yang berlangsung secara informatif dan seluruhnya dilakukan melalui rangkaian atau jalinan pertanyaan yang telah dirancang secara tertulis dalam lembar-lembar PBMP. Pada pembelajaran yang didukung oleh kegiatan praktikum sekalipun, pola pembelajaran itu tetap dipertahankan, meskipun untuk operasionalisasi kegiatan praktikum dibutuhkan pula perintah-perintah teknis. Gramatika bahasa Indonesia yang digunakan harus selalu benar. Pertanyaan tentang hal yang sama, dapat diulang dan dirumuskan dari sudut pandang berbeda-beda. Satu konsep dan subkonsep dikaji sebanyak-banyaknya sesuai tingkat perkembangan (Corebima dalam Zubaidah,2009).

6.      Pengembangan PBMP
            Struktur lembaran yang menganut pola PBMP dapat dikembangkan sendiri oleh setiap guru, sepanjang tetap memperhatikan dan mempertahankan karakter utama dari pola PBMP. Berikut adalah urut-urutan pengembangan lembar pola PBMP yang banyak diguakan meliputi 1) Silabus, 2) pengembangan materi, pendekatan, strategi, dan metode pembelajaran, 3) pengembangan lembar PBMP bagi siswa dalam pembelajaran.
a)      Silabus
   Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian, penilaian, alokasi waktu dan sumber belajar. Ada beberapa prinsip dalam pengembangan silabus yaitu
1.             Ilmiah, Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.
2.             Relevan, Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik.
3.             Sistematis, Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi.
4.             Konsisten, Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok/ pembelajaran, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian.
5.             Memadai, Cakupan indikator, materi pokok/pembelajaran, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.
6.             Aktual dan Kontekstual, Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.
7.             Fleksibel, Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.
8.             Menyeluruh, Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor (Musthofa, 2010).
b. Pengembangan Materi, Pendekatan, Strategi, dan Metode                      Pembelajaran
        Menurut Zubaidah (2009)  secara umum perencanaan pembelajaran dan pelaksanaannya selalu diupayakan tetap mengacu kepada Silabus. Materi pembelajaran selalu berada dalam ruang lingkup konsep dan suskonsep yang sesuai. Pendekatan strategi dan metode pembelajaran (yang merupakan bagian dari pelaksanaan pembelajaran) juga harus selalu mengacu kepada tujuan pembelajaran yang terdapat dalam Silabus. Materi pembelajaran ditemukan dan dikumpulkan dari buku-buku sumber seperti buku siswa, buku pedoman guru, atau buku lain, sepanjang berada dalam ruang lingkup yang benar. Strategi pembelajaran sains yang dirancang untuk digunakan adalah konstruktivisme. Strategi ini ditetapkan berdasarkan pertimbangan bahwa dewasa ini pendekatan itulah yang disarankan. Pendekatan yang dirancang untuk digunakan adalah PBMP sedangkan metode disesuaikan dengan karakteristik materi, tujuan, serta sumber yang tersedia.
c.  Pengembangan Lembar PBMP bagi Siswa dalam Pembelajaran
            Zubaidah (2009) menjelaskan bahwa setelah tahap 1 dan 2 dilalui, penulisan lembar PBMP siap dilakukan. Struktur umum lembar PBMP tersebut adalah: Sediakan, Lakukan, Ringkasan (Pikirkan), Evaluasi dan Arahan. Lakukan meliputi kegiatan, penulisan hasil pengamatan, dan renungkan. Bagian yang paling penting dari struktur adalah Renungkan dan Pikirkan. Struktur lembar PBMP seperti tersebut dirancang untuk kegiatan pembelajaran yang didukung kerja kelompok dan kerja demonstratif. Pada kegiatan pembelajaran yang tidak didukung kerja kelompok maupun kerja demonstratif, struktur lembar PBMP adalah Pendahuluan, Sediakan, Lakukan, Ringkasan (Pikirkan), Evaluasi dan Arahan. Pada lembar PBMP yang dirancang untuk kegiatan pembelajaran yang didukung kerja kelompok dan kerja demonstratif bagian lembar PBMP yang disebut sebagai renungkan sebenarnya berisi kaitan antara data pengamatan dan aneka hal lain termasuk yang ada dalam masyarakat. Dalam hubungan ini dapat juga dinyatakan bahwa substansi pada bagian renungkan merupakan perluasan pikiran terhadap data amatan. Lebih lanjut yang disebut pikirkan sebenarnya berisi kesimpulan dari konsep atau subkonsep. Kesimpulan itu didirikan atas dasar data amatan maupun butir-butir pikiran pada bagian renungkan. Pada lembar PBMP yang dirancang untuk kegiatan pembelajaran yang tidak didukung kerja kelompok dan kerja demonstratif, bagian yang disebut renungkan berisi kaitan antara konsep dan subkonsep dengan aneka hal lain dalam masyarakat termasuk di dalamnya merupakan perluasan konsep dan subkonsep. Oleh karena tidak ada kerja kelompok atau kerja demonstratif, maka pada lembar PBMP terkait tidak ada bagian kesimpulan.
       Pada seluruh bagian mulai dari awal hingga akhir lembar PBMP (evaluasi), tidak ada penyampaian informasi berupa kalimat informatif; seluruhnya berupa kalimat tanya dan kalimat perintah. Kalimat perintah antara lain digunakan pada bagian cara kerja ataupun bagian lain jika diperlukan. Berikut ini dikemukakan beberapa karakteristik lembar PBMP lain yang selalu diperhatikan pada pengembangan lembar PBMP bagi siswa dalam pembelajaran.
a.         Bahasa Indonesia harus selalu dipakai dan digunakan dengan benar.
b.        Pertanyaan dapat diupayakan agar dimulai dari konsep yang besar ke konsep kecil.
c.         Jalinan antara pertanyaan ditata secara logis
d.        Pertanyaan tentang hal yang sama dapat diulang dan dirumuskan dari sudut pandang berbeda-beda.
e.         Pertanyaan lain terkait dikembangkan dan diutamakan yang terkait dengan pengalaman dan kehidupan sehari-hari.
f.         Pertanyaan di bagian awal tidak perlu harus langsung dijawab.
                                    Atas dasar beberapa karakter pertanyaan yang telah dikemukakan terlihat jelas bahwa pada pembelajaran yang menggunakan pola PBMP, kegiatan berpikir didorong secara maksimal. Melalui upaya ini yang dilakukan secara terus-menerus diyakini bahwa siswa akan terampil berpikir. Sebagaimana yang telah dikemukakan, kalimat perintah dapat digunakan. Tentu saja penggunaan kalimat perintah itu disesuaikan dengan peruntukkannya. Dalam hal ini kalimat perintah misalnya digunakan pada bagian yang berhubungan dengan prosedur kerja atau pun pada bagian yang merupakan perluasan pikiran (dalam rangka pengembangan konsep dan subkonsep). Satu hal lain yang perlu diperhatikan sejak awal adalah bahwa pada pembelajaran peranan ilustrasi gambar sangat penting. Dalam hubungan ini, hendaknya selalu diupayakan agar ilustrasi gambar dimanfaatkan ecara efisien. Pada kenyataannya ilustrasi gambar sangat memberdayakan proses berpikir dan membantu pemahaman. Di lain pihak ilustrasi gambar memang dapat menghilangkan kejenuhan.
B. HASIL BELAJAR
a.  Pengertian Hasil Belajar
                        Apriyani (2008) mengatakan dalam melakukan kegiatan belajar terjadi proses berpikir yang melibatkan kegiatan mental, terjadi penyusunan hubungan informasi-informasi yang diterima sehingga timbul suatu pemahaman dan penguasaan terhadap materi yang diberikan. Dengan adanya pemahaman dan penguasaan yang didapat setelah melalui proses belajar mengajar maka siswa telah memahami suatu perubahan dari yang tidak diketahui menjadi diketahui. Perubahan inilah yang disebut dengan hasil belajar.
                        Nani (2008), mengungkapkan hasil belajar juga merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar. Hasil belajar sesuai dengan tujuan pembelajaran, yakni aspek kognitif berkaitan dengan hasil berupa pengetahuan, kemampuan, kemahiran intelektual dan hal ini bisa dilihat dari hasil tes. Aspek Psikomotorik menunjukan kemampuan fisik seperti keterampilan motorik, syaraf, koordinasi syaraf. misalnya menentukan langkah-langkah percobaan, menggunakan alat percobaan. Aspek Afektif berhubungan perasaan, sikap, minat, dan nilai, misalnya kemampuan belajar mandiri, bekerjasama dengan orang lain, menyampaikan pendapat.
Untuk bisa mencapai tujuan pembelajaran, guru dan siswa harus bekerja bersama. Siswa sebagai pembelajar harus aktif dalam proses pembelajaran, sedangkan guru memegang peranan penting dalam menyediakan fasilitas belajar bagi siswa. Fasilitas ini dapat berupa variasi pendekatan pembelajaran, penyediaan pembelajaran yang kreatif untuk menarik minat dan motivasi, serta pemberian kesempatan kepada siswa untuk melakukan pengamatan dan eksplorasi.

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Menurut Nani (2008), Makna terpenting belajar adalah adanya perubahan perilaku setelah seseorang melaksanakan pembelajaran. Seperangkat faktor yang memberikan kontribusi belajar adalah
a.              Kondisi internal; mencakup kondisi fisik (kesehatan organ), kondisi psikis (emosional/motivasi, intelektual, kemampuan bersosialisasi dengan lingkungan).
b.             Kondisi eksternal; mencakup kesulitan materi, iklim dan tempat belajar, suasana lingkungan akan mempengaruhi kesiapan, proses, dan hasil belajar.

                        Tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran biologi di sekolah dapat diukur dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes, ini nantinya dapat digunakan untuk menilai hasil proses belajar mengajar dalam jangka waktu tertentu. Pemberian tes dilakukan dengan mengacu pada indikator dan keterampilan berpikir tertentu (Efi; 2007).

C.    Kerangka Berpikir
            Penelitian ini adalah penelitian eksperimen yang khusus dirancang guna mengetahui Pola Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan yang diproyeksikan dalam pengajaran biologi terhadap hasil belajar siswa yang dicapai. Kiranya dengan penggunaan pendekatan ini akan meningkatkan pola berpikir siswa dalam kegiatan belajar mengajar didalam kelas dan berdampak pada peningkatan hasil belajar siswa.
Secara sistematis penelitian ini ditulis dalam skema, sebagai berikut
Kelas Kontrol
Kelas Eksperimen
Pre Test
Pengajaran Tidak Menggunakan PBMP

Pengajaran Menggunakan PBMP
Post Test
Post Test
Evaluasi
Kesimpulan
Pre Test
 


B.          Asumsi Dasar
a) Setiap guru dapat memilih dan menggunakan strategi ataupun metode pengajaran yang tepat dalam kegiatan belajar mengajar.
b) Penerapan Pola Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan (PBMP) yang baik dan tepat disajikan untuk memperlancar proses belajar mengajar.

C.           Hipotesis
Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
“Terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang mendapatkan pengajaran menggunakan Pola Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan dan hasil belajar siswa yang tidak mendapatkan pengajaran menggunakan Pola Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan”.

















BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.    Definisi Operasional Variabel
            Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan (PBMP) adalah salah satu pola pembelajaran yang berupa rangkaian atau jalinan pertanyaan dalam bentuk lembar PBMP dalam meningkatkan hasil belajar siswa.
            Hasil belajar adalah hasil yang diterima siswa setelah menerapkan PBMP dalam aktifitas belajar mengajar di dalam kelas. Serta kriteria pengukuran dalam menilai tingkat keberhasilan peserta didik dalam proses pembelajaran.

B.     Populasi dan Sampel
a) Populasi
    Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPA SMA Kristen 1  Tomohon.
b) Sampel
    Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan tehnik Random Sampling untuk kelas XI IPA1 33 Siswa dan XI IPA3 33 Siswa.

C.    Rancangan Penelitian
            Penelitian ini adalah studi eksperimen dengan Randomized Control group pretes-posttest design, dengan skema berikut :
Tabel 3. Skema Rancangan Penelitian
Group
Pre test
Perlakuan
Post test
Eksperimen (*R)
T1
X
T2
Kontrol (*R)
T1
   -
T2
Keterangan :    T1        : Skor pretest
                        T2        : Skor posttest
                        X         : Pelaksanaan PBMP
(*R) Randomized
(Suryabrata ; 2003)
            Variabel-variabel penelitian ini adalah, pembelajaran PBMP sebagai variable bebas dan hasil belajar siswa sebagai variable terikat.

D.    Tehnik Pengumpulan Data
a)      Tahap Observasi, yaitu mengadakan pengamatan secara langsung di lokasi penelitian dengan berkonsultasi secara langsung kepada Kepala Sekolah dan Guru Mata Pelajaran mengenai survey Penelitian.
b)      Tahap Eksperimen
-          Tes Awal (pre-test) untuk mengumpulkan data hasil belajar siswa sebelum diterapkan PBMP.
-          Tes Akhir (post-test) untuk mengumpulkan data hasil belajar siswa setelah diterapkan PBMP.


E.     Tehnik Pengolahan Data dan Analisis Data
a)      Instrumen Instrumen penelitian yang dipakai adalah tes prestasi yaitu tes yang digunakan untuk pencapaian seorang siswa pada Sistem Ekskresi dalam bentuk pretest dan posttest.
b)      Materi Pembelajaran
Materi pembelajaran adalah Sistem Ekskresi pada Manusia
c)      Waktu Pelaksanaan
Penelitian ini dilaksakanan pada bulan April 2011, dan dilaksanakan selama 3 minggu dengan 6 x tatap muka.
d)     Tehnik Pengolahan dan Analisis Data
      Data yang terkumpul selanjutnya diolah dan dianalisis dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a.       Uji Normalitas Menggunakan Uji Liliors
Langkah-langkah :
1)      Hipotesis   H0 : Populasi Berdistribusi Normal
                  H1 : Populasi Tidak Berdistribusi Normal
2)      Taraf Nyata α = 0,05
3)      Wilayah Kritis : Tolak H0 jika L0 > Ltabel
Pengujian Hipotesis Nol :
1)      Untuk X1,X2,X3…,Xn dijadikan bilangan baku Z1,Z2,Z3,…,Zn dengan menggunakan rumus Zi =  dan masing-masing merupakan simpangan baku sampel.
                                                            S2 = 
2)      Untuk bilangan baku ini menggunakan daftar distribusi normal baku, kemudian dihitung F(Zi) = P(Z≤Zi).
3)      Selanjutnya dihitung proporsi Z1,Z2,Z3,…,Zn yang lebih kecil atau sama dengan Zi. Jika proporsi ini dinyatakan oleh S(Zi) maka S(Zi) = banyaknya Z1,Z2,Z3,…Zn/n.
4)      Hitunglah selisih F(Zi) – S(Zi) kemudian tentukanlah harga mutlaknya.
5)      Ambillah harga yang paling besar di antara harga-harga mutlak selisih tersebut.
(Sudjana, 2005)

b.      Uji Homogenitas dengan Menggunakan Data hasil Pretest dan Posttest, dengan rumus :

             F =

Kriteria pengujian adalah : terima H0 (H0 : δ12 : δ22), jika :
            F ½ α (n1-1, n2-1)  <F < F ½ α (n1-1, n2-1) 
                                                                        (Sudjana, 2005)
Langkah-langkah :
a.       Menghitung besarnya varians gabungan dengan rumus sebagai berikut :
       S2  = (n1-1) S21 + (n2-1) S22
                       

 Menghitung signifikansi perbedaan rata-rata hasil belajar dengan uji t dan subjek penelitian homogen   (S12 = S22)
Hipotesis yang akan diuji adalah :
(H0 : µ12 = µ22)
(H1 : µ12 ≠ µ22)
Untuk menguji hipotesis digunakan statistika uji t dengan rumus :


t =
                                                     (Sudjana,2005)
      Keterangan :
      X1          = Rata-rata nilai sampel 1
      X2          = Rata-rata nilai sampel 2
      S2         = Varians Sampel
      S          = Standar deviasi
      n1            = Jumlah sampel 1
      n2            = Jumlah sampel 2

Kriteria pengujian : Terima H0 jika –t1-1/2α < t <t1-1/2α
α (taraf nyata) = 0,05
dk = n-1


DAFTAR PUSTAKA

Apriyani, D. 2008. Peningkatan Hasil Belajar Biologi Siswa dengan Menggunakan Pendekatan Interaktif pada Konsep Sistem Pernafasan Manusia. Jurnal Penelitian. UIN-Syarif Hidayatullah : Jakarta.

Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktik). Jakarta : Rineka Cipta.

Corebima, A. D. 2004. Pelatihan PBMP (Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan) Pada Pembelajaran Bagi Para Guru Sains Biologi. Dalam Rangka RUKK VA, 9-10 Juli 2004. Lembaga Penelitian Universitas Negeri Malang : Malang

Corebima, A. D. 2005. Pengukuran Kemampuan Berpikir Pada Pembelajaran Biologi. Makalah pada Seminar Dies ke 41 Universitas Negeri Yogyakarta dengan tema Hasil Penelitian Tentang Evaluasi Hasil Belajar serta Pengelolaannya, Yogyakarta, Jawa Tengah 14-15 Mei 2005

Corebima, A. D. 2007. Berdayakan Kemampuan Berpikir dan Kemampuan Metakognitif Selama Pembelajaran, Jurnal Pendidikan Biologi. Universitas Negeri Malang (UM) : Malang, Jawa Timur

Efi. 2007. Perbedaan Hasil Belajar Biologi Antara Siswa Yang Diajarkan Melalui Pendekatan Cooperative Learning Teknik JIGSAW Dengan Teknik STAD. Skripsi Diterbitkan. UIN-Syarif Hidayatullah : Jakarta.

Muhfahroyin. 2008. Memberdayakan Kemampuan Berpikir Kritis. Critical Thinking as a Core Skill, the Ability to Think Critically
is a Key Skill for Academic Success
(Wal, 2003; Northedge, 2005).
http://muhfahroyin.blogspot.com/2009/01/berpikir kritis.html
                [Diakses 14 Agustus 2010]



Musthofa, 2010. Pengantar Pengembangan Silabus “Buku Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan BSNP, Jakarta 2006 :19”. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. (UIN MALIKI Malang)
                http://pengertian-dan-definisi-silabus.wordpress.com/2011
                [Diakses 10 Maret 2011]

Nani,A. N. 2008. Penerapan Pendekatan SETS Pada Materi Pengelolaan Lingkungan Untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Keterampilan Mengelolah Lingkungan di SMP N 13 Semarang. Skripsi Diterbitkan. UNNES : Semarang.

Ngangi, Jantje. 2004. Laporan Kegiatan Penelitian : Pengembangan Bahan Ajar IPA Biologi Sekolah Menengah Atas Berwawasan STM (Sains, Teknologi dan Masyarakat) & Berorientasi Life Skill. FMIPA UNIMA : Tondano.

Purwaningsih,A. 2005. Pembelajaran Kimia Berpendekatan SETS untuk meningkatkan kreatifitas berpikir kritis dan kreatif siswa kelas X SMA Muhammadiah 1 Semarang tahun pelajaran 2004/2005. Skripsi Diterbitkan. FMIPA UNNES. Semarang.

Suprijono, A. 2009. Cooperative Learning (Teori dan Aplikasi PAIKEM). Surabaya : Pustaka Pelajar.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta.

Sudjana. 2005. Metode Statistika. Tarsito : Bandung.

Suryabrata, Sumadi, 2003. Metode Penelitian. Rajawali Press : Jakarta.

Suyanik. 2005. Pengaruh Pola Penerapan Berpikir Melalui Pertanyaan (PBMP) dengan Model Pembelajaran TPS dan Strategi ARIAS terhadap kemampuan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar Kognitif pada siswa kelas X SMA Laboratorium Malang. Tesis. UM Malang.http://karyailmiah.um.ac.id/index.php/disertasi/article/view/7525
                 [Diakses 20 Agustus 2010]


Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Prestasi Pustaka : Jakarta.

Zahrah, 2009. Kemampuan Berpikir Kristis dan Kreatif siswa Kelas VIII Melalui Model Penilaian Portofolio di SMP Negeri 1 Kartasura Tahun ajaran 2008/2009. Skripsi diterbitkan. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Zubaidah,S. 2009. Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan (PBMP). Jurnal Penelitian. Jurusan Biologi FMIPA : Malang.
                [Diakses 13 Juni 2010]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar